Minggu, 01 November 2015

Citizen Journalism


Citizen Journalism

Pengertian Citizen Journalism yaitu sebuah kegiatan seseorang yang menjalankan sebuah kegiatan kejurnalistikan yang pada umumnya menggunakan saluran media baru yaitu internet untuk menyebarkan informasi dan berita yang mereka dapat.
Seiring dengan kemajuan teknologi di era modern ini semua bisa mengunggah sebuah berita ke media sosial baik itu di situs maupun blog. Artinya mayarakat sekitar dapat mendapatkan informasi dari lingkungan sekitar dan sebagai pengguna internet yang aktif, serta juga bisa mengupload informasi berikut sehingga mudah diakses dan dapat dibaca oleh pemgguna internet lainnya. Informasi dari kegiatan kejurnalistikan tersebut (Citizen journalism) mempunyai kandungan yang dapat mengubah pendapat, perilaku, serta dapat membujuk pengguna internet lainnya untuk menanggapi informasi tersebut.
PERAN CITIZEN JOURNALISM
Peran dan fungsi citizen journalism sama seperti peran dan fungsi jurnalistik pada umumnya, yaitu sebagai sumber informasi, hiburan, kontrol sosial, hingga agen perubahan. Dengan adanya citizen journalism jaringan informasi dan sumber informasi akan lebih luas. Bahkan citizen journalism sering menjadi sumber informasi penting untuk media mainstream. Ketika wartawan tidak selalu tahu semua informasi maka dengan adanya citizen journalism, informasi tersebut dapat sampai kepada masyarakat melalui media massa.
Citizen Journalism juga sering dimanfaatkan perusahaan media massa sebagai salah satu sumber berita disamping wartawan yang bekerja pada perusahaan tersebut. Citizen Journalism juga mampu menjalankan fungsi seperti pers, yaitu berupa watchdog (mengawasi semua pihak), Penyaring informasi, dan pengecekan fakta.
DASAR DASAR CITIZEN JOURNALISM
Jurnalistik adalah proses penulisan dan penyebarluasan berita (news). Karenanya, dasar pengetahuan dan keterampilan (knowledge and skill) citizen journalism adalah pemahaman dan kemahiran menulis berita. Dari dasar keterampilan menulis berita ini nanti berkembang dengan kemampuan menulis karya jurnalistik lainnya, seperi feature, artikel opini, foto jurnalistik, lalu jurnalistik penyiaran (broadcast journalism alias jurnalistik radio dan televisi).
Citizen journalism, dengan demikian, mesti mengusai ilmu jurnalistik dasar ini (penulisan berita), yang meliputi: Pengertian Berita, Nilai berita (news values), Unsur-Unsur Berita (5W+1H), Struktur naskah berita, Bahasa Jurnalistik/Bahasa Media, dan Etika penulisan berita (kode etik jurnalistik). Selain itu, ada sejumlah prinsip dasar jurnalisme warga yang harus diperhatikan. Seperti dikutip Bighow Guide dalam “Citizen Journalism Basics”, Dan Gillmor dan JD Lasica mengemukakan lima prinsip dasar jurnalisme warga (five basic principles of Citizen Journalism):
 1. Accuracy / Akurasi, ketepatan.
2. Thoroughness / Kecermatan, ketelitian.
3. Transparency / Transparansi, keterbukaan dalam peliputan berita.
4. Fairness / Kejujuran.
5. Independence / Independensi, tidak berpihak dan tidak terikat oleh kelompok mana pun. Meski “hanya” citizen journalism, berita yang dibuat mestilah akurat dari segi penulisan (redaksi) dan konten (isi, substansi, fakta, data). Karenanya, jurnalis warga memerlukan juga harus melakukan verifikasi data.
ETIKA CITIZEN JOURNALISM
            Selain tidak adanya batas yang jelas, hal lain yang dapat menjadi tantangan dalam
citizen journalism adalah masyarakat atau orang-orang yang memberikan informasi tidak harus melalui pendidikan jurnalisme terlebih dahulu. Dalam citizen journalism, semua orang dapat menjadi wartawan. Oleh sebab itu, terkadang berita yang dimuat terkadang tidak sesuai dengan aturan penulisan berita atau etika jurnalisme yang ada. Karena itu, menjadi citizen journalist juga ada etikanya. Etika citizen journalism kurang lebih sama dengan etika menulis di media online. Di antaranya sebagai berikut:
1. Tidak menyebarkan berita bohong
2. Tidak mencemarkan nama baik
3. Tidak memicu konflik SARA
4. Tidak memuat konten pornografi
5. Menyebutkan sumber berita dengan jelas


PRINSIP VIDEO CITIZEN JOURNALISM
            Bahasa televisi memang sengaja dirancang secara teknis untuk bisa memadukan gambar (video), kata-kata dan suara (audio) sekaligus pada saat bersamaan dan simultan. Menurut Morisson, sedikitnya ada 15 prinsip penulisan naskah berita televisi (video) yang sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa jurnalistik (televisi) dan patut diperhatikan oleh setiap pewarta warga, yaitu:
 1. Mengedepankan penyampaian berita dengan gaya ringan dan bahasa sederhana. Kalimat dalam naskah berita TV maksimal terdiri atas dua puluh kata, satu kalimat gagasan, menghindari munculnya anak kalimat, mengubah gaya birokrasi dan militeristik menjadi ungkapan lugas dan mudah dimengerti masyarakat luas.
2. Menggunakan prinsip ekonomi kata.
3. Menggunakan ungkapan yang lebih pendek
4. Menggunakan kata-kata sederhana
5. Menggunakan kata sesuai dengan konteks
6. Menghindari ungkapan bombastis
7. Menghindari istilah teknis tidak dikenal
8. Menghindari ungkapan klise dan eufimisme
9. Menggunakan kalimat tutur
10. Pewarta warga harus selalu objektif
11. Jangan mengulangi informasi
12. Istilah-istilah harus diuji kembali
13. Harus menggunakan kalimat aktif, terstruktur serta hindarkan pemakaian kalimat pasif
14. Jangan terlalu banyak angka
15. Berhati-hatilah mencantumkan data jumlah korban
Peran media televisi amat besar pengaruhnya dalam memengaruhi kecenderungan perilaku pemirsanya. Karena ia kombinasi dari media audio sekaligus video. Amat logis jadinya, media televisi mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral serta profesional untuk selalu menggunakan bahasa jurnalistik yang baik dan benar. Televisi, video sebagai media yang paling banyak pemirsanya dan paling lama ditonton dibandingkan dengan media massa lain, jelaslah mengemban fungsi edukasi kebangsaan yang harus dilaksanakan secara konsisten.

Bentuk – Bentuk Citizen Journalism
Seperti yang dikutip dalam buku Mengamati Fenomena  Citizen Journalism, Gibson (Severin dan Tankard, 2005 : 445) mendefinisikan : Dunia maya (cyberspace) adalah realita yang terselubung secara global, di dukung komputer, berakses komputer, multidimensi, artifisal, atau virtual.  Dalam realita ini, di mana setiap komputer adalah sebuah jendela, terlihat atau terdengar objek-objek yang bukan bersifat fisik dan bukan representasi  objek-objek fisik, namun lebih merupakan gaya, karakter, dan aksi  pembuatan data, pembuatan informasi murni (Yudhapramesti, 2007 : 5-6).

Steve Outing pernah mengklasifikasikan bentuk-bentuk citizen journalism sebagai berikut:

1. Citizen journalism membuka ruang untuk komentar publik. Dalam ruang itu, pembaca atau khalayak bisa bereaksi, memuji, mengkritik, atau menambahkan bahan tulisan jurnalisme profesional. Pada media cetak konvensional jenis ini biasa dikenal dengan surat pembaca.
2. Menambahkan pendapat masyarakat sebagai bagian dari artikel yang ditulis. Warga diminta untuk ikut menuliskan pengalamannya pada sebuah topik utama liputan yang dilaporkan jurnalis.
3. Kolaborasi antara jurnalis profesional dengan nonjurnalis yang memiliki kemampuan dalam materi yang dibahas. Tujuannya dijadikan alat untuk mengarahkan atau memeriksa keakuratan artikel. Terkadang profesional nonjurnalis ini dapat juga menjadi kontributor tunggal yang menghasilkan artikel tersebut.
4. Bloghouse warga. Bentuknya blog-blog gratisan yang dikenal, misalnya ada  wordpress,  blogger, atau  multiply. Melalui blog, orang bisa berbagi cerita tentang dunia, dan bisa menceritakan dunia berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya.
5. Newsroom citizen transparency blogs. Bentuk ini merupakan blog yang disediakan sebuah organisasi media sebagai upaya transparansi. Dalam hal ini pembaca bisa melakukan keluhan, kritik, atau pujian atas apa yan ditampilkan organisasi media tersebut.
6. Stand-alone citizen journalism site, yang melalui proses editing. Sumbangan laporan dari warga, biasanya tentang hal-hal yang sifatnya sangat lokal, yang dialami langsung oleh warga. Editor berperan untuk menjaga kualitas laporan, dan mendidik warga (kontributor) tentang topik-topik yang menarik dan layak untuk dilaporkan.
7. Stand-alone citizen journalism, yang tidak melalui proses editing.
8. Gabungan stand-alone citizen journalism website dan edisi cetak.
9. Hybrid: pro + citizen journalism. Suatu kerja organisasi media yang menggabungkan pekerjaan jurnalis profesional dengan jurnalis warga.
10. Penggabungan antara jurnalisme profesional dengan jurnalisme warga dalam satu atap. Website membeli tulisan dari jurnalis profesional dan menerima tulisan jurnalis warga.
11. Model  Wiki. Dalam Wiki, pembaca adalah juga seorang editor. Setiap orang bisa menulis artikel dan setiap orang juga bisa memberi tambahan atau komentar terhadap komentar yang terbit (Yudhapramesti, 2007).

KATEGORI CITIZEN JOURNALISM
            J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 5 tipe :
1.Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).
2. Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).
3. Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).
4. Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).
5. Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).
6. Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).



Istilah Jurnalisme Warga
Ada 9 alternatif nama untuk Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) sebagaimana dikemukakan Mark Glaser di Mediashift:
1.      Grassroots journalism. Jurnalisme Akar Rumput
2.      Networked journalism. Jurnalisme Berjejaring.
3.      .Open source journalism. Jurnalisme Sumber Terbuka.
4.      Citizen media. Media Warga.
5.      Participatory journalism. Jurnalisme Partisipasi.
6.      Hyperlocal journalism. Jurnalisme Sangat Lokal.
7.      Bottom-up journalism. Jurnalisme Bawah-ke-Atas.
8.      Stand-alone journalism. Jurnalisme Mandiri.
9.      Distributed journalism. Jurnalisme Terdistribusi.

MEMAKSIMALKAN PENGUNAAN KAMERA VIDEO
Kenali dan Pahami Kamera Video ,Semua alat yang akan digunakan harus benar–benar dikuasai supaya memi-nimalisasikan kesalahan pengambilan gambar nantinya.
Rekaman Video yang Layak Dilihat dan Disimpan . Rekaman video dikatakan layak untuk dilihat dan disimpan jika memenuhi 4 syarat : cukup pencahayaan, fokus, stabil dan cukup durasi.
Rekaman Video yang Layak Dinikmati . Rekaman video yang layak dinikmati harus memenuhi kaidah – kaidah sebagai berikut:
1. Balance, Framing, Compositions : Horizontal Lines, Vertical Lines, Thirds Ratio, Diagonal Lines, Triangle, Perspective, Looking Room, Walking Room, Head Room, Golden Mean, Background, Foreground.
2. Frame Cutting Points : Extreme Close Up, Big Close Up, Close Up, Medium Close Up, Medium Shot, Medium Long Song, Long Shot, Extreme Long Shot.
3. Other Types Of Shot : 2 Shot, 3 Shot, Group Shot, Over Shoulder Shot, Establishing Shot.
4. Camera Movement : Panning ( Left, Right, Up, Down ), Tracking ( In, Out, Follow, Revolve ), Truck ( Left, Right ), Zooming ( In, Out )
5. Camera Angle # 1 : Normal Angle, Low Angle, High Angle
6. Camera Angle # 2 : Objective Camera, Subjective Camera
7. Shot By Camera Positions : Face Shot, ¾ Shot, Profile Shot, Over Shoulder Shot
8. Shooting Rules : Jump Cut, Crossing The Line, Continuity

TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR
Establishing Shot (ES)
Pengambilan gambar/shooting yang di ambil dari jarak yang sangat jauh atau dari “pandangan mata burung”, biasanya untuk membangun pengetahuan dimana lokasi kejadian.
Long Shot (LS)
Shooting dilakukan dari jarak jauh, tetapi tidak sejauh establish shot.digunakan untuk penekanan terhadap lingkungan sekitar atau setting dalam scene.
Medium Shot (MS)
Shooting untuk membuat frame actor. Biasanya dilakukan dari pinggang ke atas. Medium shot (MS) bias digunakan untuk membuat focus terhadap 2 orang yang saling berhadapan dan beinteraksi,missalnya: debat, berpelukan dan sebagainya.
Close-Up (CU)
Shoting diambil dari jarak dekat. Biasanya focus kepada wajah, digunakan untuk memperlihatkan ekspresi wajah/mimic. Memperhatikan detail objek,atau untuk mengarahkan audience pada suatu elemen yang dipentingkan.
TIPS MEREKAM DENGAN KAMERA VIDEO
Fokus Pada Objek Rekaman
Saat mulai melakukan perekaman, usahakan posisi tangan dalam keadaan kokoh. Kamera yang bergoyang sangat mempengaruhi rekaman video. Agar kamera tak bergoyang, gunakan bantuan penyangga seperti tripod atau monopod.Walau begitu, Anda tetap harus berlatih memegang kamera dengan stabil, karena Anda tidak bisa mengandalkan tripod terus-menerus. Bayangkan bila Anda harus menentengnya dari satu tempat ke tempat lain. Boleh saja memakai tripod, tapi hanya untuk merekam obyek yang tak bergerak dalam jangka waktu lama.
Mengontrol Posisi Gambar
Apabila obyek yang Anda bidik terlalu jauh dari posisi Anda, usahakan untuk memakai fasilitas zooming. Meski fasilitas pembesaran tersebut sangat mudah digunakan, fokus obyek harus tetap terjaga.
Frame
Mulailah mengatur komposisi antar obyek bidikan, sehingga berada dalam satu frame yang baik dan sesuai. Sebuah klip yang akan Anda rekam bisa mempunyai komposisi yang baik apabila menggunakan teknik dasar komposisi. Pertama, komposisi balance, yaitu dengan membayangkan garis horizontal dan vertikal. Pertemuan garis tersebut adalah titik yang tepat untuk obyek bidikan. Namun, Anda juga bisa menggunakan komposisi yang tak lumrah untuk menghasilkan efek-efek tertentu. Perhatikan masalah overscan yang biasanya memotong sinyal video dan mengaburkan obyek bidikan. Aturlah ruang kosong di atas frame ketika merekam obyek.
Kontinuitas
Saat merekam, sebaiknya Anda memikirkan jalan cerita video tersebut, sehingga klip memungkinkan dipotong saat editing. Usahakan merekam satu obyek dari beragam angle atau sudut pandang. Anda bisa menggabungkan rekaman video close-up, rekaman pendek, dan wide-angle. Yang penting, pastikan antara satu frame dengan frame berikutnya memiliki keterkaitan. Misalnya saja, ketika Anda merekam di area terbuka, maka pastikan pencahayaan diatur sama.
Background - Foreground
Sangat penting untuk menempatkan obyek bidikan berada dalam posisi yang nyaman dilihat di dalam sebuah frame. Pastikan foreground dan background tidak saling membuat pandangan bias. Bidiklah obyek tertentu dengan latar belakang yang kosong. Apabila background berupa suasana di pusat perbelanjaan, maka penonton tak lagi fokus di obyek utama tersebut. Hindari juga memakai background yang intrusif. Misalnya menempatkan obyek di depan pohon, sehingga kelihatan pohon tersebut tumbuh di kepalanya. Prinsip serupa bisa diterapkan untuk foreground. Pastikan tak ada orang yang melintas di depan kamera saat Anda sedang membidik obyek tertentu.
Plan the Pan
Cobalah gunakan teknik pan, yaitu merekam obyek yang bergerak pada bidang horizontal. Anda bisa memakai teknik tersebut untuk dua keperluan. Pertama, merekam area obyek yang luas ke dalam satu frame. Misalnya saja Anda ingin merekam pemandangan di gunung atau arsitektur bangunan. Kedua, ketika Anda ingin merekam obyek yang bergerak pada jalur tertentu, misalnya balap F1, balapan kuda, atau orang yang berlari. Yang penting, pastikan gerakan obyek tertangkap dengan jelas berikut gerakan yang akan direkam terakhir. Untuk merekam gambar bergerak, sebaiknya gunakan bantuan tripod agar gambar tak goyang.
Pengaturan Cahaya
Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang penting ketika merekam video. Tapi cahaya yang terlalu banyak akan membuat obyek terlihat putih. Sebaliknya kurang cahaya bisa pula membuat obyek tidak terlihat. Namun kebanyakan kamera video kini telah menyertakan setelan pencahayaan otomatis. Namun demikian, saat merekam di luar ruangan sebaiknya posisi Anda membelakangi cahaya matahari.
Suara dan Visi
Setelah teknik video Anda kuasai, perhatikan juga masalah audio. Video yang baik sebaiknya memang memiliki perpaduan gambar dan suara yang seimbang. Kamera video biasanya menyertakan mikrofon built-in untuk merekam suara. Namun demikian, biasanya mikrofon tersebut juga merekam suara yang berada di sekitar obyek bidikan, seperti suara bising, angin, dan nafas si kameraman.
Persiapan
Sebelum merekam, pastikan kamera dan peranti pendukung sudah dalam keadaan siap. Pastikan power baterai dalam keadaan penuh. Apabila kurang, charge baterai, hingga power-nya maksimal. Biasakan juga membuat checklist atau daftar alat yang harus Anda bawa ketika merekam. Ketika Anda bepergian jauh atau melakukan rekaman berjam-jam, usahakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar